Tiba-tiba aku
terbangunkan oleh suara cikgu Budi, “nah, kita sudah mau sampai ini di melewar
1 dekat sudah” kata beliau.
“Iya kah” kata mba brigita.
“nah, tuh lihat
disini lebih dekat dengan pasar, bisa beli sayur, ikan dan barang-barang
lainya” kata cikgu budi.
“Wah senangnya”
Kami semua tertawa dan mba brigita senyum lebar
pertanda senang. Aku turut senang karena ia ditempatkan d tempat yang lebih
baik dibanding Mba Rita. Beliau juga ditempatkan dirumah dekat stap bersama
dengan cikgu dari Humana. Kalau tidak salah dengar cigu budi bilang nama cikgu
tersebut adalah cikgu Rahmi.
Ketika kami
sampai di pasar paris cikgu budi membelokan hi-lux merahnya ke sebelah kanan disana
ada ada plang besar bertuliskan J.C chang Group melewar Estate. Setelah lima
menit kami sampai di Gate pertama melewar kami diperkenalkan dengan security
bahwa kami adalah cikgu-cigu Indonesia yang baru. Akhirnya kami sampai di
office ladang Melewar 1 melapor terlebih dahulu, mba brigita masuk bersama
cikgu budi, aku dan pak musnedi menunggu diluar. Mba brigita diminta menunjukan
dokumen-dokumen, salah satunya adalah surat penugasan dari kemendiknas. Setelah
dari office kami mengantar mba brigita ke rumah untuk tempat tinggalnya,
rumahnya cukup bagus dan layak untuk dihuni. Rumah dengan cat berwarna putih
terbuat dari bahan kayu dengan type panggung tinggi, gaya rumah adat ala
Kalimantan. Fasilitasnya cukup lengkap ada kulkas, televise dilengkapi astro
dan rumahnya tertata. Ada cerita lucu dari rumah ini, ketika diperjalanan cikgu
budi berbual bahwa dirumah ini bisa makmur karena dulu ia juga pernah tinggal
disini.
“Nih, buktinya perutku
sebesar ini... he…he…” kata cikgu budi sambil tertawa kecil.
“Memang kenapa
cikgu?” kata mba brigita.
“setiap hari
makan daging” kata cikgu budi.
“Wah senang nya,
nanti mba brigita juga bisa mengikuti jejak cikgu budi” kataku sambil tertawa.”
“Iya kan ceritanya disini bisa ternak tikus” kata
cikgu budi sambil tertawa lebar. Semuanya ketawa.
”Iyalah-iyalah
nanti bisa nyate tikus juga” kata mba brigita pasrah dikerjain.
“Buat tikus
guling, sop buntut tikus dan lain-lain” kata pak musnedi menambahi sambil
tertawa dengan wajahnya yang selalu tersenyum manis.
Akhirnya mba Brigita pun bisa tidur
dengan tenang karena tempatnya cukup bagus dan nyaman disana ada seorang gadis kecil
yang suka membantu cikgu Rahmi mempersilahkan. Kami pun tidak bisa lama-lama karena waktu
semakin cepat menuju sore. Jam di handpone ku menunjukan 16.00, saat itu jalan
masih basah karena terkena hujan. Sebentar reda sebentar turun lagi dengan
rintik-rintik. Kami pamitan dan mengucapkan selamat berjuang dan semoga betah
mengabdi di Melewar 1.
“Nanti kalau sudah panen
tikus jangan lupa yah bagi-bagi sama teman-teman” cikgu Budi melucu.
“Siip tenang
saja, nanti saya sediakan semua makanan dari daging tkus” mba Brigita menanggapi guyonan
cikgu Budi.
Selepas
mengantar mba Brigita kami bertiga kembali melanjutkan perjalanan.
“Perjalanan Masih Panjang” dalam benaku
sambil mendesah lirih dan menarik napas
panjang. Entah seperti apa tempatku ditugaskan, kata pak mus tempatnya bagus
dan sekolahnya berada diatas bukit. Selama beberapa lama kami hanya berdiam saja,
aku melihat keluar jendela kaca, baru saja kami melintasi fabric pengolahan kelapa sawit Kilang
Melewar.
Kata cikgu budi
untuk bisa keluar dari asia ada beberapa alternative yang pertama kita bisa
naik bas perusahaan dan biayanya RM 12, kalau tidak ada bas atau ketinggalan
kita juga bisa naik lori (sejenis truk besar pengangkut kelapa sawit), mobil tangker atau
kendaran yang lewat di jalur ini.
“kita akan
menuju ke melewar 2 dulu, melihat kondisi cikgu Quina sebelum ke Asia” cikgu budi membuka
pembicaraan.
“Okelah cikgu” kata ku dari belakang.
Karena aku
tinggal sendirian saja duduk dibelakang sementara pak mus di depan dengan cikgu
budi. Aku kembali melihat-lihat di balik jendela kaca mobil, kulihat hanya
pohon-pohon sawit saja, diluar hujan rintik-rintik membasahi jalan tanah
sehingga terlihat licin dan lengket. Kami semakin masuk ke tengah hutan sawit,
ini bagaikan masuk ke dalam sebuah labirin yang tak berujung.
“Sejauh mata memandang sejauh itu pula kulihat
hanya daun-daun kelapa sawit”
Ketika sedang mendaki ke atas jalan yang berbukit, Tidak kulihat pohon yang
lain, hanyalah kelapa sawit yang tampak hijau dan mengkilat daunnya karena
terkena air hujan. Pohon kelapa sawit seperti pohon pakis haji kalau di Indonesia atau pohon
kurma kalau di daerah gurun, memiliki pohon yang sangat tinggi kalau sudah tua
sekitar 15-20 m tingginya. Tapi kalau masih kecil seperti gundukan pohon salak
tapi tidak terlalu rapat dahan-dahanya. Pelepahnya memiliki duri yang sangat
tajam seperti
duri ikan dibagian pangkal. Buahnya kulihat seperti buah kurma tetapi memiliki
bonggol/ tandan yang sangat besar buahnya berwarna merah tua ketika masih muda
dan berubah warnanya menjadi kuning kemerah-merahan ketika sudah matang. Matang
tidaknya buah sawit dapat dilihat ketika dibawah pohonya sudah banyak buah yang
jatuh, berarti kelapa sawit tersebut sudah matang dan siap dipanen.
Tiba-tiba
kulihat seekor biyawak ukuranya sangat besar mungkin sama besarnya dengan anak
berusia 5 tahun. Aku sangat kaget dan terus memandangi biawak tersebut yang
hampir
tertabrak hi-Lux yang kami tumpangi. Tapi biawak tersebut cepat menghindar sambil lari ke parit di
samping jalan. Mobil pun agak terseok-seok karena menghindari biawak tersebut
karena dalam keadaan kecepatan tinggi sekitar 70 km/jam kulihat dalam
speedometer.
Tiba-tiba kami
berhenti di sebuah puncak bukit ku memandang jauh kedepan, terlihat hamparan
sawit yang berwarna hijau kehitam hitaman pertanda waktu semakin menjelang
malam. Kulihat jam handphoneku menunjukan pukul 17.00. cikgu budi menerima
telepon entah dari siapa sepertinya tidak terhubung. Sinyal dalam handphon ku
pun raib tidak ada yang saat itu aku ganti nomor As ku dengan No produk
Malaysia yaitu Maxis. Aku terlanjur membeli produk ini karena waktu itu aku
akan ditempatkan di ladang Mostyn yang menurut senior PNS disana bagus
menggunakan kartu Maxis. Terutama dia ada kerjasama dengan salah satu produk celluler Indonesia
yaitu kartu As, Istriku di Indonesia memakai kartu As. Pak musnedi pun tidak
menegetahui bahwa maksis bagus
karena sejak datang ke Hwa Li 3 beliau menggunakan produk Cellcom, Di Asia jadi
aku coba dulu.
Cikgu budi
terlihat sangat kesal karena suara ditelephonenya terputus-putus lalu dia menutup
handponenya dan mengatakan kepada lawan bicaranya bahwa dia akan mengirim mesej
aja. Sekarang aku tau sudah, ternyata diladang-ladang sangat kurang sekali
sinyal sehingga komunikasi terhambat. Akhirnya kami pun berangkat melanjutkan
perjalanan. 17.00 kami sampai di Ladang Melewar 2, disana sudah ada mba Quina terlihat baru
datang, tas-tasnya masih menumpuk di ruang tamu. Dia tinggal sementara di rumah
pekerja tapi sudah ber IC, ternyata dia adalah orang tuanya salah satu cikgu di
ladang Asia. Kami bertiga masuk sebentar, di suguhi neskafe dan biscuit coklat
kami mengobrol-ngobrol sejenak lalu ikut sembahyang maghrib, langsung dijamak
sholat isya. Selepas itu kami pamitan pulang, kami rasa mba Quina tidak ada masalah
terkait tempat tinggal karena rumahnya cukup bagus dan terbuat dari batu.
Sekitar jam 07.30 kami sampai di Asia dengan suasana malam gelap kulihat rumah tempat ku tinggal nanti ditunjukan oleh pak mus. Rumah panggung tinggi seperti tempatnya mba brigita berwarna putih nomor 05. Akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan dengan selamat aku ditunujukan kamarku, “ya Allah, ini kamar atau kandang” suara terdengar dalam benaku. aku tersenyum saja dan memasukan koperku, tapi aku tidak tidur di kamar untuk malam itu. Aku tidur sama-sama dengan cikgu budi diruang tamu. Aku belum diperkenalkan pada pihak ladang karena pihak perusahaan tutup kantor jam 18.00 cikgu budi mengatakan bahwa ia akan memperkenalkan aku besok pagi-pagi. Setelah beres-beres aku langsung tidur, badanku terasa lelah sekali dan cape. Sekitar 6 jam perjalanan tadi buatku ingin tidur lebih cepat. Bissmillahilahaulawalakuatailla bilah “ ya Allah aku berlindung padamu, aku serahkan hidupku padamu dinegeri ini” perjalanan masih panjang, ini adalah awal dari perjalanan kehidupan menghadapi alam bebas di negeri dibawah bayu, Sabah – Malaysia.
Sekitar jam 07.30 kami sampai di Asia dengan suasana malam gelap kulihat rumah tempat ku tinggal nanti ditunjukan oleh pak mus. Rumah panggung tinggi seperti tempatnya mba brigita berwarna putih nomor 05. Akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan dengan selamat aku ditunujukan kamarku, “ya Allah, ini kamar atau kandang” suara terdengar dalam benaku. aku tersenyum saja dan memasukan koperku, tapi aku tidak tidur di kamar untuk malam itu. Aku tidur sama-sama dengan cikgu budi diruang tamu. Aku belum diperkenalkan pada pihak ladang karena pihak perusahaan tutup kantor jam 18.00 cikgu budi mengatakan bahwa ia akan memperkenalkan aku besok pagi-pagi. Setelah beres-beres aku langsung tidur, badanku terasa lelah sekali dan cape. Sekitar 6 jam perjalanan tadi buatku ingin tidur lebih cepat. Bissmillahilahaulawalakuatailla bilah “ ya Allah aku berlindung padamu, aku serahkan hidupku padamu dinegeri ini” perjalanan masih panjang, ini adalah awal dari perjalanan kehidupan menghadapi alam bebas di negeri dibawah bayu, Sabah – Malaysia.

No comments:
Post a Comment