Saturday, November 17, 2012

"Perjalanan yang Menantang"

Tiba-tiba aku terbangunkan oleh suara cikgu Budi, “nah, kita sudah mau sampai ini di melewar 1 dekat sudah” kata beliau.
Iya kah” kata mba brigita.
“nah, tuh lihat disini lebih dekat dengan pasar, bisa beli sayur, ikan dan barang-barang lainya” kata cikgu budi.
Wah senangnya”  
Kami semua tertawa dan mba brigita senyum lebar pertanda senang. Aku turut senang karena ia ditempatkan d tempat yang lebih baik dibanding Mba Rita. Beliau juga ditempatkan dirumah dekat stap bersama dengan cikgu dari Humana. Kalau tidak salah dengar cigu budi bilang nama cikgu tersebut adalah cikgu Rahmi.  
Ketika kami sampai di pasar paris cikgu budi membelokan hi-lux merahnya ke sebelah kanan disana ada ada plang besar bertuliskan J.C chang Group melewar Estate. Setelah lima menit kami sampai di Gate pertama melewar kami diperkenalkan dengan security bahwa kami adalah cikgu-cigu Indonesia yang baru. Akhirnya kami sampai di office ladang Melewar 1 melapor terlebih dahulu, mba brigita masuk bersama cikgu budi, aku dan pak musnedi menunggu diluar. Mba brigita diminta menunjukan dokumen-dokumen, salah satunya adalah surat penugasan dari kemendiknas. Setelah dari office kami mengantar mba brigita ke rumah untuk tempat tinggalnya, rumahnya cukup bagus dan layak untuk dihuni. Rumah dengan cat berwarna putih terbuat dari bahan kayu dengan type panggung tinggi, gaya rumah adat ala Kalimantan. Fasilitasnya cukup lengkap ada kulkas, televise dilengkapi astro dan rumahnya tertata. Ada cerita lucu dari rumah ini, ketika diperjalanan cikgu budi berbual bahwa dirumah ini bisa makmur karena dulu ia juga pernah tinggal disini.
Nih, buktinya perutku sebesar ini... he…he…” kata cikgu budi sambil tertawa kecil.  
“Memang kenapa cikgu?”  kata mba brigita.
“setiap hari makan daging” kata cikgu budi.
“Wah senang nya, nanti mba brigita juga bisa mengikuti jejak cikgu budi” kataku sambil tertawa.”
Iya kan ceritanya disini bisa ternak tikus” kata cikgu budi sambil tertawa lebar. Semuanya ketawa.
”Iyalah-iyalah nanti bisa nyate tikus juga” kata mba brigita pasrah dikerjain.
“Buat tikus guling, sop buntut tikus dan lain-lain” kata pak musnedi menambahi sambil tertawa dengan wajahnya yang selalu tersenyum manis.
Akhirnya mba Brigita pun bisa tidur dengan tenang karena tempatnya cukup bagus dan nyaman disana ada seorang gadis kecil yang suka membantu cikgu Rahmi mempersilahkan. Kami pun tidak bisa lama-lama karena waktu semakin cepat menuju sore. Jam di handpone ku menunjukan 16.00, saat itu jalan masih basah karena terkena hujan. Sebentar reda sebentar turun lagi dengan rintik-rintik. Kami pamitan dan mengucapkan selamat berjuang dan semoga betah mengabdi di Melewar 1.
Nanti kalau sudah panen tikus jangan lupa yah bagi-bagi sama teman-teman” cikgu Budi melucu.
“Siip tenang saja, nanti saya sediakan semua makanan dari daging tkus” mba Brigita menanggapi guyonan cikgu Budi.
Selepas mengantar mba Brigita kami bertiga kembali melanjutkan perjalanan.
Perjalanan Masih Panjang” dalam benaku sambil mendesah lirih dan  menarik napas panjang. Entah seperti apa tempatku ditugaskan, kata pak mus tempatnya bagus dan sekolahnya berada diatas bukit.  Selama beberapa lama kami hanya berdiam saja, aku melihat keluar jendela kaca, baru saja kami melintasi fabric pengolahan kelapa sawit Kilang Melewar.
Kata cikgu budi untuk bisa keluar dari asia ada beberapa alternative yang pertama kita bisa naik bas perusahaan dan biayanya RM 12, kalau tidak ada bas atau ketinggalan kita juga bisa naik lori (sejenis truk besar pengangkut kelapa sawit), mobil tangker atau kendaran yang lewat di jalur ini.
“kita akan menuju ke melewar 2 dulu, melihat kondisi cikgu Quina sebelum ke Asia” cikgu budi membuka pembicaraan.
Okelah cikgu kata ku dari belakang.
Karena aku tinggal sendirian saja duduk dibelakang sementara pak mus di depan dengan cikgu budi. Aku kembali melihat-lihat di balik jendela kaca mobil, kulihat hanya pohon-pohon sawit saja, diluar hujan rintik-rintik membasahi jalan tanah sehingga terlihat licin dan lengket. Kami semakin masuk ke tengah hutan sawit, ini bagaikan masuk ke dalam sebuah labirin yang tak berujung.
Sejauh mata memandang sejauh itu pula kulihat hanya daun-daun kelapa sawit
Ketika sedang mendaki ke atas jalan yang berbukit, Tidak kulihat pohon yang lain, hanyalah kelapa sawit yang tampak hijau dan mengkilat daunnya karena terkena air hujan. Pohon kelapa sawit seperti pohon pakis haji kalau di Indonesia atau pohon kurma kalau di daerah gurun, memiliki pohon yang sangat tinggi kalau sudah tua sekitar 15-20 m tingginya. Tapi kalau masih kecil seperti gundukan pohon salak tapi tidak terlalu rapat dahan-dahanya. Pelepahnya memiliki duri yang sangat tajam seperti duri ikan dibagian pangkal. Buahnya kulihat seperti buah kurma tetapi memiliki bonggol/ tandan yang sangat besar buahnya berwarna merah tua ketika masih muda dan berubah warnanya menjadi kuning kemerah-merahan ketika sudah matang. Matang tidaknya buah sawit dapat dilihat ketika dibawah pohonya sudah banyak buah yang jatuh, berarti kelapa sawit tersebut sudah matang dan siap dipanen.
Tiba-tiba kulihat seekor biyawak ukuranya sangat besar mungkin sama besarnya dengan anak berusia 5 tahun. Aku sangat kaget dan terus memandangi biawak tersebut yang hampir tertabrak hi-Lux yang kami tumpangi. Tapi biawak tersebut cepat menghindar sambil lari ke parit di samping jalan. Mobil pun agak terseok-seok karena menghindari biawak tersebut karena dalam keadaan kecepatan tinggi sekitar 70 km/jam kulihat dalam speedometer.
Tiba-tiba kami berhenti di sebuah puncak bukit ku memandang jauh kedepan, terlihat hamparan sawit yang berwarna hijau kehitam hitaman pertanda waktu semakin menjelang malam. Kulihat jam handphoneku menunjukan pukul 17.00. cikgu budi menerima telepon entah dari siapa sepertinya tidak terhubung. Sinyal dalam handphon ku pun raib tidak ada yang saat itu aku ganti nomor As ku dengan No produk Malaysia yaitu Maxis. Aku terlanjur membeli produk ini karena waktu itu aku akan ditempatkan di ladang Mostyn yang menurut senior PNS disana bagus menggunakan kartu Maxis. Terutama dia ada kerjasama dengan salah satu produk celluler Indonesia yaitu kartu As, Istriku di Indonesia memakai kartu As. Pak musnedi pun tidak menegetahui  bahwa maksis bagus karena sejak datang ke Hwa Li 3 beliau menggunakan produk Cellcom, Di Asia jadi aku coba dulu.
Cikgu budi terlihat sangat kesal karena suara ditelephonenya terputus-putus lalu dia menutup handponenya dan mengatakan kepada lawan bicaranya bahwa dia akan mengirim mesej aja. Sekarang aku tau sudah, ternyata diladang-ladang sangat kurang sekali sinyal sehingga komunikasi terhambat. Akhirnya kami pun berangkat melanjutkan perjalanan. 17.00 kami sampai di Ladang Melewar 2, disana sudah ada mba Quina terlihat baru datang, tas-tasnya masih menumpuk di ruang tamu. Dia tinggal sementara di rumah pekerja tapi sudah ber IC, ternyata dia adalah orang tuanya salah satu cikgu di ladang Asia. Kami bertiga masuk sebentar, di suguhi neskafe dan biscuit coklat kami mengobrol-ngobrol sejenak lalu ikut sembahyang maghrib, langsung dijamak sholat isya. Selepas itu kami pamitan pulang, kami rasa mba Quina tidak ada masalah terkait tempat tinggal karena rumahnya cukup bagus dan terbuat dari batu.
Sekitar jam 07.30 kami sampai di Asia dengan suasana malam gelap kulihat rumah tempat ku tinggal nanti ditunjukan oleh pak mus. Rumah panggung tinggi seperti tempatnya mba brigita berwarna putih nomor 05. Akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan dengan selamat aku ditunujukan kamarku, “ya Allah, ini kamar atau kandang” suara terdengar dalam benaku. aku tersenyum saja dan memasukan koperku, tapi aku tidak tidur di kamar untuk malam itu. Aku tidur sama-sama dengan cikgu budi diruang tamu. Aku belum diperkenalkan pada pihak ladang karena pihak perusahaan tutup kantor jam 18.00 cikgu budi mengatakan bahwa ia akan memperkenalkan aku besok pagi-pagi. Setelah beres-beres aku langsung tidur, badanku terasa lelah sekali dan cape. Sekitar  6 jam perjalanan tadi buatku ingin tidur lebih cepat. Bissmillahilahaulawalakuatailla bilah “ ya Allah aku berlindung padamu, aku serahkan hidupku padamu dinegeri ini” perjalanan masih panjang, ini adalah awal dari perjalanan kehidupan menghadapi alam bebas di negeri dibawah bayu, Sabah – Malaysia.

No comments:

Post a Comment